Sabtu, 06 Februari 2010

Tukang Ojek Honoris Causa

Semasa masih ngantor, beginilah rute pulang saya: dari Blok M menumpang Metro Mini 611 menuju Lebak Bulus, dilanjutkan angkot D.01 menuju Pasar Ciputat. Rute ini bisa divariasikan dengan naik Metro Mini 610 jurusan Pondok Labu, turun di halte Panglima Polim, lalu mencegat bus AC/non AC langsung menuju Pasar Ciputat. Rute kedua diambil bila jam pulang saya bertepatan dengan kepulangan suporter Persija dari Senayan. Kalah atau menang, bagi saya reaksi JakMania sama saja: berteriak-teriak, selalu tampak ingin menantang berkelahi, dan hal terakhir yang saya inginkan adalah terjebak di Lebak Bulus bersama para militan ini.

Nah, dari kedua rute berbeda itu, ada satu persamaannya: ketika sampai di Pasar Ciputat, saya akan naik ojek sampai ke rumah. Dan cerita tentang tukang ojek itulah yang akan jadi tema perbincangan kita kali ini.

Jasa pelayanan ojek di Pasar Ciputat sungguh luar biasa bagusnya. Kalau kita naik angkot, di bawah flyover sudah menanti para ojekers berbaris rapi di atas motor. Dan ketika kita bilang “Kiri, Bang.” sambil membayar ongkos, ojekers akan langsung mengacungkan jari (bukan, bukan jari tengah) pada kita sembari dengan sopan bertanya, “Ojek, Mbak?”

Hal sama juga berlaku kalau kita naik bus. Lewat flyover, bus akan berhenti di depan Ramayana dan memuntahkan seluruh penumpangnya (biasanya disertai ujaran khas, “Terakhir, terakhir!”).

Kita baru menyeberang saja, para tukang ojek ini sudah ramai menawarkan jasa baiknya dengan begitu antusias sehingga yang perlu kita lakukan hanya menganggukkan kepala, balas melambai, atau mengedipkan mata kalau mau sedikit genit.

Saya tidak pernah pilih-pilih tukang ojek. Selain agak sulit mengenali kondisi motor yang bagus dan pengendara yang agak ganteng di antara remang-remang lampu pasar, saya memang tidak ingin direpotkan dengan hal-hal semacam itu. Perjalanan pulang dari pasar menuju rumah tidaklah terlalu jauh, dan itu bisa ditempuh naik ojek yang baik motor maupun tampang pengendaranya biasa-biasa saja. Lagipula, agak mengerikan membayangkan ketimpangan ekonomi yang akan terjadi jika hanya ojekers dengan motor bagus dan tampang ganteng yang punya pemasukan.

Entah mengapa, ojek-ojek yang saya naiki selalu dikendarai oleh pengendara yang gemar bercakap. Tidak pernah jelas bagi saya apakah mereka ini pada dasarnya senang mengobrol, atau ada sesuatu dengan tampang saya yang membangkitkan naluri curhat mereka. Ada satu tukang ojek yang bisa saya buat menceritakan pengalaman hidupnya sejak jadi satpam Bank BNI, kena PHK, ikut demo, masuk penjara, banting setir jadi tukang ojek, dan di pagi hari ikut menjaga warung istrinya – dalam perjalanan pulang yang makan waktu paling banter 15 menit saja.

Nah, di antara deretan tukang ojek yang pernah mengantar saya pulang, ada satu yang paling berkesan dan masih saya ingat sampai sekarang. Tentu bukan tampangnya, motornya, apalagi namanya, melainkan perbincangannya. Alih-alih curhat, si tukang ojek ini berwacana. Perhatiannya pada hal-hal makro agak mencengangkan saya.
Dalam perjalanan yang hanya 15 menit itu, dia membahas beberapa konsep tentang nasionalisme. Semua diawali dengan komentar iseng saya terhadap tumpukan sampah di kompleks pasar yang tidak beres-beres penanganannya sehingga bentuknya jadi lebih mirip gunungan. “Ya, begitulah jika pemerintahan kota masih terlalu hijau, tapi sudah dipaksakan mengatur banyak hal, Mbak. Mengurus sampah saja tidak becus.” (baru-baru ini daerah tempat tinggal saya memang memeroleh nama baru, Kota Tangerang Selatan – hasil pemekaran.)

“Nama boleh baru, tetapi tidak mengubah apa pun. Yang untung tetap orang di atas, sekarang mereka punya banyak saluran dan payung baru untuk semakin mengeruk dana,” katanya.

Saya manggut-manggut. Wuih. Pilihan katanya boleh juga.

Dari situ obrolan kami berkembang. Ia makin bersemangat ketika membicarakan mental pejabat. Menurutnya, korupsi kolusi nepotisme dan sebagainya terjadi karena rasa cinta pada bangsa sudah luntur. “Kalau sudah tidak cinta, menyiksa seperti apa pun tega-tega saja kan, Mbak?”

Saya manggut-manggut lagi. Masuk akal.

“Mbak tahu apa yang saya pikirkan sebagai solusi meningkatkan nasionalisme?” dia bertanya. Saya bilang tidak, sebab itu pasti reaksi yang diinginkan si orator ini. “Wajib militer, Mbak! Itu jalan keluar paling ampuh. Apalagi yang masih muda-muda ini. Kalau hanya pakai batik dan nyanyi Padamu Negeri, itu sih semua orang bisa. Tapi wajib militer jelas akan memberi pengalaman langsung tentang bagaimana mencintai negara ini.”

Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Pak, kalau itu terjadi, yang pasti akan muncul adalah calo atau makelar sertifikat atau joki wamil. Nasionalisme sih belum tentu.”

Ia ikut tertawa, mungkin menyetujui ucapan saya, atau miris melihat belum-belum idenya sudah dimentahkan oleh satu anggota spesies ‘yang muda-muda’.

“Selain bisa meningkatkan nasionalisme, wamil juga melatih kebersamaan lho, Mbak.” Ia masih membela konsep wamilnya. “Orang-orang tidak mau wamil itu menunjukkan egoisme dan individualisme berlebihan, dan itu justru harus dihapus.”
“Gitu ya, Pak.”
“Mbak tahu apa penyebab individualisme berlebihan itu?”
Lagi-lagi saya bilang tidak.
“AC!” jawabnya mantap.
“AC?” saya kaget.
“Iya, AC. Pendingin ruangan. Orang di rumah pakai AC, semua jendela dan pintu ditutup supaya dinginnya maksimal. Tetangga mau mampir jadi segan. Di mobil pakai AC juga, boro-boro bisa berbincang dengan tukang koran atau penjual makanan. Di kantor juga pakai AC. Pulangnya di mobil setel AC lagi, sampai di rumah begitu juga. Orang jadi egois karena memikirkan kenyamanannya sendiri. Tidak sempat bersosialisasi dengan masyarakat yang tidak selapis dengan dirinya.”

Wow. Saya langsung membayangkan sebuah tesis berjudul: “Dampak Pendingin Ruangan Terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

“Idealnya ada pengaturan tentang pemakaian AC, Mbak. Barangkali bukan dihapuskan sama sekali. Ya, dikurangi sedikit-sedikit. Akan berguna juga untuk mengurangi dampak pemanasan global.“ Ia masih melanjutkan.

Di bangku boncengan, saya tersenyum. Betapa idealisnya orang ini. Kalau sampai ada regulasi tentang pemakaian AC, tidak terbayang aksi protes yang akan dilakukan para kapitalis, juga orang-orang yang terlanjur menerima kibul pendingin ruangan dengan teramat konsumtif. Tetapi, ide adalah ide. Saya merasa tidak punya hak untuk sekali lagi mementahkan gagasan beliau, si tukang ojek pemuja wamil.

Malamnya, cerita ini saya sampaikan pada seorang kawan via pesan singkat. Dan balasannya sungguh membuat saya tertawa lepas:

“Barangkali dia bergelar honoris causa.”

Kamis, 03 September 2009

Sekadar Memanfaatkan Momentum?


Datangnya bulan Ramadhan memberi kita pemandangan tersendiri di televisi. Sinetron-sinetron yang biasanya berlimpah kata-kata makian yang kasar, bahasa tubuh yang nyebelin, dan dialog yang melambangkan kecintaan yang besar terhadap materi, kini berubah wujud. Para tokoh mendadak berkerudung dan berpeci, dan mulai menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, alias mung mampir ngombe.
Cobalah cermati jalan cerita sinetron-sinetron yang memang penuh dengan ragam cobaaan itu: kematian, penyakit berat, rebutan harta, anak kandung yang tertukar dengan anak tiri, dan sebagainya. Jika biasanya dalam menghadapi jalan cerita tersebut para tokoh sinetron berteriak-teriak atau saling menampar, sekarang mereka hanya menarik nafas panjang dan mengucap istighfar. Mereka yang dulunya berseteru, kini berlomba-lomba mengalah. Kelakuan yang biasanya ngotot-ngototan, berubah menjadi lembut bukan kepalang.
Perkara pakaian juga ikut disesuaikan. Tokoh perempuan yang biasanya memakai pakaian seperti jahitan yang kekurangan bahan, kini berpakaian lebih tertutup. Sementara tokoh laki-laki ditampilkan sering memakai kopiah. Dalam beberapa adegan justru kelihatannya jadi lucu karena mereka menggunakan kerudung atau peci bahkan ketika hanya leyeh-leyeh di dalam rumah. Rasanya kita sendiri juga tidak begitu-begitu amat dalam ‘merayakan’ bulan suci. Bukankah semangat tidak harus diwujudkan hanya dengan atribut fisik?
Tidak berlebihan jika dikatakan para praktisi sinetron ini semata-mata memanfaatkan momen yang ada. Mumpung bulan puasa identik dengan kesabaran, maka jalan cerita pun dibelokkan sedemikian rupa sehingga pas bener dengan semangat Ramadhan. Ini saja tidak cukup. Dialog pun harus bernafaskan Islami. Tokoh-tokoh sinetron yang biasanya slenge’an dan hanya mengerti bagaimana cara berdandan kini menjelma da’i dengan mengutip ayat-ayat Al Quran dalam percakapan sehari-hari. Hebat betul. Semuanya atas nama Ramadhan.
Tampaknya sebagai penonton sekaligus umat beragama, kita harus merelakan bulan ini dieksploitasi habis-habisan oleh para praktisi sinetron. Hal ini adalah suatu niscaya, alias mau tidak mau, suka tidak suka, pasti terjadi. Kita terpaksa melihat bulan Ramadhan hanya sebagai salah satu momen dalam kehidupan, yang apa salahnya dimanfaatkan?
Radityo Prabowo, Produser TV Borobudur, memiliki pendapat yang cukup menghibur dalam memandang hal ini. “Jika kita mau memandang sinetron yang mendadak jadi relijius itu sebagai bentuk dakwah, maka sebetulnya itu adalah media dakwah yang secara kuantitatif paling mengena untuk masyarakat Indonesia,” kata praktisi televisi lokal itu. “Dibandingkan dengan acara bincang-bincang yang meskipun secara kualitatif lebih baik, tapi ceruk pasarnya lebih sedikit.”
Masalahnya, bisakah kita memandang sinetron yang mendadak relijius ini sebagai media dakwah? Rasanya kok susah. Untuk bisa dikatakan sebagai media dakwah, sebuah sinema elektronik harus memiliki konsistensi dalam menawarkan wacana-wacana keimanan, jika perlu dengan cara-cara yang kreatif dan berbeda. Tidak mendadak dan musiman seperti yang terjadi sekarang.
Contoh paling baik menurut saya adalah sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Serial produksi PT Demi Gisela Citra Sinema yang ditulis oleh Wahyu HS dan disutradarai oleh Deddy Mizwar ini adalah contoh sinema yang konsisten menawarkan wacana keimanan. Dari segi waktu saja, ia hanya ditayangkan dalam bulan Ramadhan. Bahkan konon Deddy Mizwar pernah menolak tawaran untuk melayarlebarkan PPT.
Share PPT sendiri cukup bagus, mencapai 32% dengan penyebaran penonton merata laki-laki dan perempuan, dari berbagai kelompok usia (10-24 tahun, 30-39 tahun, dan 40-49 tahun, AGB Nielsen). Bagi saya ini berita baik. Betapa tidak, PPT sarat dengan berbagai dialog yang sepintas tampak ringan, tapi begitu direnungkan bisa memberikan makna yang cukup dalam.
Salah satu adegan yang menempel di ingatan adalah ketika kampung Bang Jack (Deddy Mizwar) mengadakan perhelatan lomba karambol dalam rangka ulangtahun tokoh kaya Pak Jalal (Jarwo Kwat). Hansip Udin mempertanyakan apakah banyaknya orang yang ikut lomba karambol disebabkan oleh hadiah yang menggiurkan. “Kalau nggak ada hadiahnya, jangan-jangan nggak ada yang ikut.” ia menyimpulkan.
Apa jawaban Bang Jack? “Yang ikut ya hanya mereka-mereka yang benar-benar cinta karambol. Demikian halnya dengan ibadah. Karena Allah tahu manusia penuh dengan kelemahan dan sewaktu-waktu bisa bosan, maka diberilah iming-iming surga dan pahala sebagai hadiah.” Ini adalah suatu pembicaraan yang tingkatnya filsafati, namun dengan lincah PPT bisa mengemasnya melalui tahap analogi dengan hal-hal remeh dalam kehidupan sehari-hari seperti lomba karambol.
Jelas bahwa menjadikan sinetron sebagai media dakwah tidak bisa dilakukan dengan hanya menyelipkan potongan-potongan ayat kitab suci yang seringkali terasa numpang lewat tanpa konteks. Sebab jika hanya itu yang dilakukan, apa boleh buat, harus dikatakan bahwa sinetron kita sekadar memanfaatkan momen Ramadhan demi pundi-pundi uang.

(dimuat di Suara Merdeka Edisi Minggu, 30 Agustus 2009)

'Bahasa' Campur Iklan Kita


Di majalah Tempo edisi 20-26 Juli 2009 yang lalu, ada artikel menarik tentang bahasa yang ditulis oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Dalam artikel itu Seno mengomentari sebuah baris komik keluaran tahun 1964 berjudul Sakarat yang ditokohi oleh Petruk, Gareng, Bagong, dan istrinya.
Alkisah keempat karakter bertemu di simpang jalan, kemudian saling mengejek pakaian dan gaya dandan masing-masing dengan menggunakan campuran bahasa Inggris, Belanda, Betawi, dan Jawa. Nah, masing-masing unsur ini lalu saling tempel menempel seenaknya sehingga menimbulkan kosakata-kosataka yang lucu.
Petruk dan Gareng menyebut Bagong ‘wan beetle alias kumbang’ dan istrinya ‘bedbug alias kutu busuk’. Tak mau kalah, Bagong dan pasangan menyebut Petruk dan Gareng sebagai ‘een monkey and satu donkey’. Seno membuat analisis menarik tentang perpaduan kata-kata ini, yang pada gilirannya membuat saya bertanya-tanya: jika bahasa di sebuah strip komik tahun 60-an kondisinya begitu rupa, bagaimana keadaan kita sekarang?
Dalam hemat saya, tak jauh beda. Memang kita tidak lagi bercakap sehari-hari dalam bahasa Belanda (meskipun bahasa Inggris tetap banyak penggemarnya, dong!), namun jejak-jejak pemujaan masih tampak nyata. Dulu sekali ada iklan kopi yang bintangnya kalau tidak salah Rudy Wowor. Ia berdandan dengan jas tutup warna putih dan topi kumpeni, lalu menyeruput kopi, dan sesaat kemudian terdengarlah jargon, ”Heerlijk, meneer!”
Dari sini saya ingin maju lebih jauh. Tidak hanya bahasa yang mengisyaratkan jejak-jejak Barat. Kehadiran tokoh-tokoh bule berikut dialog dan gestur di layar kaca bisa bercerita lebih banyak. Harap diingat yang sedang kita bicarakan ini bukan bule yang ‘menjadi-Indonesia’ seperti Wahyu Soeparno Putro, melainkan orang asing yang posisinya betul-betul pihak luar dengan segenap keasingan yang membuatnya jadi gumunan atau sebaliknya, digumuni. Untuk memeriksa hal ini saya memilih salah satu bentuk acara paling pop, yaitu iklan.
Bule yang gumunan dihadirkan misalnya lewat iklan minuman penyegar panas dalam merk Jess Cool. Di iklan itu ada bule gondrong yang meminta air minum. Ia bertanya, “Ada water?”. Si penjaga toko kemudian menjawab, “Be careful, mister, itu panas dalam.”
Pilihan kata water daripada ‘air’ adalah untuk mempertahankan kesan asing si bule, meskipun ia sudah mengawali dengan kata ‘ada’. Begitu juga ekspresi baru-tahu si bule ketika mendengar diagnosa bahwa ia menderita panas dalam. Ia gumun ternyata di Indonesia ada penyakit bernama panas dalam, berikut minuman yang bisa meredamnya. Kesan asing ini menjadi benang merah yang diperlukan karena si bule harus terlihat terkejut-tapi-senang ketika meminum Jess Cool.
Satu kasus iklan yang menurut saya menarik untuk dijadikan contoh bule yang digumuni adalah iklan Jupiter MX versi Valentino Rossi. Digambarkan Rossi ngebut super kencang sehingga membuat pakaian Komeng dan kawan-kawan compang camping. Ia pun dimarahi. Ketika helm dibuka, Komeng menyeletuk, “Bule, lagi.”

Nah, apa makna “Bule, lagi.” yang diucapkan Komeng? Apakah aneh jika seseorang mengebut di jalan raya? Ataukah aneh hanya karena ia bule? Bukankah perilaku yang diatribusikan pada bule (yang berasal dari dunia “Barat”) adalah menaati peraturan, tidak seperti di Indonesia di mana peraturan seolah-olah dibuat untuk dilanggar?
Inilah wacana lama yang masih saja hangat untuk diperdebatkan. Kita selalu menempatkan diri di bawah “Barat” dari cara-cara yang paling kentara sampai yang paling subtil seperti iklan sepeda motor. Begitu melekatnya sifat inferior ini sampai kita jadi harus bertanya pada diri sendiri, apakah ini gejala yang masih bisa diobati, atau karakter yang mau tak mau, suka tak suka, harus kita bawa sampai mati?
Di zaman Orde Lama, Bung Karno terkenal sangat menentang imperialisme, dan pemberangusan ini dilaksanakannya sepenuh hati. Apapun yang kebarat-baratan dihapuskan. Mulai lagu Koes Plus yang ngak-ngik-ngok mirip The Beatles, sampai razia celana jengki.
Jargon andalan Bung Karno adalah “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”. Memang terkesan pongah, tapi ada benarnya. Dengan meminimalisir pemujaan terhadap “Inggris dan Amerika”, Bung Karno berharap Indonesia akan menemukan karakternya sendiri. Beliau pasti juga sudah menangkap bahwa Indonesia akan lama bermental babu, maka itu butuh tindakan tegas dan keras soal jati diri ini.
Namun, takdir berkata lain. Amerika kita puja, dan tim sepakbola Inggris yang tidak jadi datang ke Indonesia membuat kita menangis. Barangkali di sini ironinya. Betapa arus globalisasi begitu sulit untuk dibendung, dan menempatkan kita di pihak yang setia mengadopsi apa saja yang datang dari Amerika (dan Inggris). Semuanya atas nama dunia yang sudah menyempit jadi desa global. Sayangnya, kita toh tetap jadi masyarakat lapis ketiga dalam desa itu.
Ngomong-ngomong, arus postmodernisme ini lucu juga. Seorang Italia mengiklankan produk Jepang di negara Indonesia. Tidak apa-apa. Jangan merasa terjajah dan terhina. Asalkan kita, seperti kata si Italia yang kebetulan pembalap itu, terus berkarya sehingga bisa menjadi negara yang “semakin di depan” dan “yang lain pasti ketinggalan”.

Gambar dari http://sheilawinston.files.wordpress.com

(dimuat di Suara Merdeka Edisi Minggu, 9 Agustus 2009)

Terteror Televisi


Pemboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton sudah berlalu dalam hitungan hari. Toh efek terornya masih kita rasakan - walau tidak dalam bentuk fisik. Rekaman close-circuit television (CCTV), gambar-gambar potongan kepala dan luka berdarah-darah, dan jerit tangis korban terus ‘meneror’ kita dari menit ke menit.
Televisi memang bisa menjadi sangat vulgar berkaitan dengan pemberitaan bencana. Seolah-olah atas nama investigasi, penayangan gambar sadis (dan berulang-ulang) menjadi sah adanya. Rekaman CCTV pelaku peledakan Ritz Carlton, misalnya, begitu sering ditayangkan sampai rasanya menempel di otak kita.
Saya masih hafal urutannya. Jumat, 17 Juli 2009. Seorang lelaki berbaju warna gelap, bertopi dan membawa dua tas (trolly di tangan kanan, tas lain di bahu kanan). Ia masuk ke dalam lobi, belok ke kanan, lalu masuk ke restoran. Di sini terlihat beberapa pertugas mulai memperhatikan. Tak lama kemudian terjadilah ledakan. Boom!
Belum lagi gambar almarhum Presiden Direktur PT Holcim, Timothy McKay, yang pascaledakan sempat terduduk di pinggir jalan. Adegan McKay dengan kepala berdarah dan pakaian robek-robek diputar ulang lagi dan lagi. Juga gambar beberapa warga asing yang sekujur tubuhnya penuh pecahan kaca.
Ini belum termasuk wawancara dengan Alex Asmasoebrata yang kebetulan melewati tempat kejadian perkara dalam rangka lari pagi. Sekali dua kali mendengarkan penuturannya, kita masih bisa merasa terinformasi. Tapi kok jadi terus-terusan ditayangkan, ya? Alex lagi, Alex lagi.
Saya membayangkan betapa kelimpungannya Alex menerima permintaan wawancara media hari itu. Sampai-sampai ketika menjadi bintang tamu di TVOne di siang hari menjelang sore, ia masih mengenakan baju seragam lari paginya (yang bergambar Presiden SBY). Bayangkan betapa sialnya dia hari itu. Sudah gagal lari pagi dengan tenang, tidak sempat ganti baju seharian pula.
Saya mencatat bahwa saking over-eksposnya, Alex kehilangan sentuhan empati yang seharusnya dia miliki sebagai saksi mata sebuah bencana. Makin lama ia makin terlihat lebih ke bersemangat daripada sedih. Bagaimana perasaan anggota keluarga korban bom ketika menontonnya? Bisa jadi mereka menganggap Alex tertawa di atas penderitaan sesama, dan inilah justru bencana yang sesungguhnya.
Apa arti ini semua? Tayangan bencana yang vulgar dan berulang-ulang malah menghilangkan esensi dari pemberitaan itu sendiri. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah informasi. Namun, saking bersemangatnya media, kita malah disuguhi potongan adegan dan gambar yang, karena cuma itu-itu saja, makin lama makin kehilangan makna.
Sesungguhnya kita punya peraturan untuk menertibkan hal ini. Mengutip detiknews.com, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memiliki dua pasal, yaitu pasal 30 yang mengatur bahwa lembaga penyiaran tidak boleh menayangkan adegan kekerasan secara eksplisit, berlebihan dan vulgar. Gambar luka dan korban kekerasan, kecelakaan, tidak boleh disorot dekat. Penggunaan senjata tajam dan senjata api tidak boleh disorot dari dekat.
Masih ada lagi. Gambar kekerasan tingkat berat dan potongan organ tubuh korban dan genangan darah yang diakibatkan tindakan kekerasan, bencana dan kecelakaan harus disamarkan. Durasi dan frekuensi penyorotan korban yang eksplisit harus dibatasi. Kemudian ada pula pasal 31, yang menyatakan lembaga penyiaran tidak boleh memberikan gambaran secara eksplisit dan rinci tentang cara membuat dan mengaktifkan bahan peledak. Komplit, bukan?
Sekarang bayangkan betapa banyaknya yang dilanggar dari pasal ini. Adegan kekerasan pascapeledakan bom Marriot dan Ritz-Carlton berlalu-lalang dengan bebasnya. Malah salah satu televisi menyorot potongan kepala tanpa menyamarkan gambarnya. Bikin mual saja. Jangan lagi bicara tentang durasi dan frekuensi. Alex Asmasoebrata adalah bukti nyata.
Berita baiknya, KPI tidak tinggal diam menyikapi hal ini. KPI sudah menindak dua stasiun televisi yang dinilai menayangkan gambar bencana dengan terlalu sadis dan vulgar. Meskipun identitas stasiun-stasiun televisi yang dimaksud masih dirahasiakan, rasanya tidak butuh indra keenam untuk menebak siapa saja mereka.
Lalu bagaimana? Selanjutnya terserah kita. Media bisa menayangkan apapun yang mereka mau. Kalau nakal toh sudah ada KPI yang siap sedia menjewer mereka. Hal yang lebih penting sekarang adalah melindungi diri sendiri, keluarga dan teman-teman kita dari efek buruk pemberitaan ini.
Seto Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan nama Kak Seto, sudah memberikan peringatan bahwa gambar-gambar teror bom ini besar pengaruhnya bagi anak-anak. “Tanpa disadari tayangan tersebut jadi momok bagi anak dan masuk ke dalam alam bawah sadar mereka,”katanya seperti dikutip detiknews.com.
Menurut Kak Seto, bahayanya dua. Satu, anak-anak jadi takut ke tempat umum seperti mal atau sekolah. Dua, ada kecenderungan meniru. Kita sangat, sangat, layak untuk prihatin terhadap masalah ini. Bola ada di tangan kita. Sebagai khalayak sudah tugas (dan hak) kita terus mengkritisi apa yang berseliweran di layar kaca.

Gambar dari: solocybercity.files.wordpress.com

(dimuat di Suara Merdeka Edisi Minggu, 2 Agustus 2009)

Bertukarpikiran Tentang Cinta


Judul buku : Di Kereta, Kita Selingkuh
Penulis : Budi Maryono
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri
Jumlah halaman : 175 halaman
Cetakan : kedua, Juni 2009

Bagaimanakah kiranya sebuah kisah cinta musti terjalin? Apakah berawal dari pertemuan, sedikit rayuan, membina hubungan, lantas berakhir dengan pernikahan? Bagi penulis Budi Maryono, persoalannya tidaklah sesederhana itu. Di tangannya, kisah cinta bukanlah dongeng yang selalu berakhir bahagia. Bahkan bisa saja tidak usah, dan tidak perlu, berakhir.
Ini ditunjukkannya dengan jelas lewat buku Di Kereta, Kita Selingkuh. Kumpulan cerpen berisi dua puluh cerita ini adalah buku ketiga Budi setelah Siluet Bulan Luka dan Tamu-tamu Allah. Dalam buku ini Budi memotret kisah-kisah cinta yang bisa kita pisahkan menjadi dua bagian. Pertama, kisah cinta orang-orang yang (seolah-olah) tidak berhak untuk jatuh cinta; kedua, kisah cinta orang-orang yang tidak mengerti bentuk cinta seperti apa yang sebenarnya mereka cari.
Siapakah orang-orang yang (seolah-olah) tidak berhak untuk jatuh cinta? Dalam cakrawala imajinasi seorang Budi Maryono, rupanya banyak macamnya: mereka yang sudah berkeluarga (“Bulan Ratih”, “Binar Mata Dinar”, “Di Kereta, Kita Selingkuh”, “Sepasang Cappuccino”), kaum homoseksual (“Kau Tikam Aku Persis di Jantung”), juga waria (“Sekuntum Mawar”).
Ketidakbolehan untuk jatuh cinta ini, kita mafhum, datang dari norma. Seseorang yang sudah menikah tidak layak jatuh cinta lagi, sama seperti laki-laki yang seharusnya mencintai perempuan, bukan sesama jenisnya sendiri. Sementara sosok waria, tanpa perlu jatuh cinta pun sudah selalu dipinggirkan.
Budi Maryono kemudian mempertanyakan kehadiran norma-norma tersebut. Apakah kecenderungan norma untuk membelenggu perasaan manusia dapat dikatakan adil? Efektifkah kerja norma? Bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan norma yang melingkupinya? Kontemplasi Budi mengenai hal ini banyak diwujudkan dalam bentuk-bentuk dialog. Menariknya, dialog ini tidak harus manusia dengan manusia. Ada kalanya tokoh manusia berdialog dengan Daun (dengan ‘D’ besar, “Matahari Indri”), atau dengan Sekuntum Mawar (juga dengan ‘S’ dan ‘M’ besar, “Sekuntum Mawar”). Di sinilah letak elaborasi diskursus cinta yang ditawarkan Budi: bahwa ia tidak hanya bisa didiskusikan antarmanusia saja. Huruf-huruf besar yang diletakkannya di awal nama daun dan mawar adalah bentuk personifikasi. Jika cinta dirasakan oleh setiap makhluk hidup, maka tumbuh-tumbuhan bisa saja jadi partner manusia untuk bertukar pikiran mengenainya. Kenapa tidak?
Satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa melalui cerpen-cerpennya yang selalu dialogis itu, Budi ternyata tidak sedang berusaha mencari kesimpulan tertentu tentang cinta. Ia tidak mengambil sikap bahwa cinta seharusnya begini, atau seharusnya begitu. Ini dapat dilihat antara lain lewat cerita “Bulan Ratih” dan “Sepasang Cappuccino”. Dua cerita ini sama-sama berkisah tentang orang yang sudah berkeluarga, tapi ketiban cinta lagi. Tokoh pria (yang kebetulan penyair) dalam cerita pertama memutuskan untuk kabur di detik terakhir karena ingat anak dan istri, sementara karakter suami dari cerita kedua menyerah pasrah begitu saja dalam pelukan pacar lama yang ternyata masih enak juga. Ini dua akhir cerita yang berbeda, menggambarkan dua pandangan moral yang berbeda, dan barangkali saja merefleksikan keabu-abuan penulisnya dalam memandang pertanyaan mahaklasik: apakah cinta monogamis itu mungkin?
Sayangnya, kecenderungan Budi untuk menempatkan sudut pandangnya dalam area abu-abu, dan karenanya membuat diskursus cinta jadi tidak membosankan, sedikit goyah ketika bicara cinta kaum homoseksual dan waria. Cerita “Kau Tikam Aku Persis di Jantung”, meskipun judulnya berhasil memukau saya karena luar biasa licin, tetap mengandung ‘stereotipe’ bahwa jalinan cinta antarsesama jenis selalu melibatkan kekerasan fisik yang tidak tanggung-tanggung. Sementara kisah cinta waria dengan seorang pria tampan yang ternyata hanya main-main dengannya (“Sekuntum Mawar”), bukankah sudah sering kita dengar?
Golongan yang kedua, yaitu orang-orang yang tidak mengerti bentuk cinta seperti apa yang sebenarnya mereka cari, mendapat porsi cukup besar dalam buku ini. Menjadi menarik karena Budi menyuguhkan kebingungan dan kebimbangan tokoh-tokohnya dalam balutan pertanyaan paling hakiki dalam sejarah eksistensi manusia: siapa saya?
Salah satu cerita yang memukau adalah “Ros Tak Pulang Lagi”. Ini adalah cerita tentang seseorang yang ragu akan orientasi seksualnya. Ia rindu Tuhan, tapi ragu apakah dirinya pantas menginjakkan kaki ke rumah ibadah. Ia kemudian memproyeksikan rasa rindu dan bimbangnya ini dengan berdialog dengan dirinya sendiri semasa kecil (“Aku tak mau teman-teman berteriak, ‘Banci ngaji, banci ngaji!’ sambil memeletkan lidah.”, halaman 125).
Di sinilah terasa keberhasilan Budi untuk meramu antara cinta, rindu, dan kebingungan yang menimpa karakter rekaannya. Bayangan masa lalu memanggil-manggil tokoh Ros untuk beribadah, memompa adrenalinnya sehingga ia cukup berani untuk melangkahkan kaki ke mushola (meski bingung mau pakai sarung atau mukena), tapi pertanyaan tentang identitas diri lantas merubuhkan semua kepercayaan dirinya. Di luar akhir cerita di mana Ros akhirnya bunuh diri, menurut saya ini adalah salah satu cerita terbaik dalam kumpulan cerpen ini.
Benang merah buku ini ada pada pertanyaan tentang komitmen. Ketika seorang suami jatuh cinta pada istri orang, apakah ia sedang mengkhianati komitmen pernikahan? Ketika seorang lelaki ingin menjadi perempuan, apakah ia sedang mengkhianati komitmen penciptaannya dengan Tuhan? Pada titik inilah kata ‘selingkuh’, yang merupakan satu-satunya kata tercetak dalam huruf kapital pada sampul buku, memperoleh relevansinya yang paling dalam. Selamat membaca. (Andina Dwifatma, penikmat sastra)

(dimuat di Bianglala, Suara Merdeka Edisi Minggu, 2 Agustus 2009)

Minggu, 19 Juli 2009

Perempuan yang "Terbelah"


Tokoh perempuan di televisi Indonesia pada umumnya terbagi menjadi dua; si baik dan si jahat. Atau dalam istilah majalah Bobo, Nirmala dan si Sirik. Yang jadi Nirmala biasanya digambarkan berdandan tipis minimalis, bicaranya halus, jika dimarahi tidak melawan dan jika dibentak-bentak hanya istighfar.
Si Sirik sebaliknya. Dandanannya luar biasa tebal, seolah-olah segala jenis kosmetik ditumpahkan begitu saja ke wajahnya. Berperan jadi pihak yang memarahi dan membentak-bentak. Kalau bicara matanya melotot, dagunya mendongak, beda betul dari perempuan jenis Nirmala yang banyak menundukkan kepala. Apakah cara masyarakat kita memandang perempuan Indonesia, sama dengan apa yang terlihat di layar kaca?
Kalau jawabannya ya, gawat betul. Soalnya layar kaca kita cenderung kejam terhadap perempuan. Posisinya digambarkan sebagai hitam-putih: protagonisnya seperti malaikat yang kurang darah sehingga terkesan pasrah, sementara antagonisnya seperti monster betina dengan nafsu berkuasa yang menyaingi Adolf Hitler.
Contoh paling mudah adalah yang bisa kita lihat dalam sinetron Inayah. Tadinya sinetron ini memang tidak ikut-ikutan sinetron RCTI yang kurang kreatif itu, di mana judul sinetron dipastikan adalah nama tokoh gadis pemeran utama. Inayah tadinya berjudul Hareem, tapi karena penamaan itu menuai protes maka terpaksa diganti.
Ceritanya berkisah tentang Kanjeng Doso, seorang pengusaha kaya dengan banyak istri. Mengapa persisnya seorang pengusaha kaya lantas jadi kolektor istri sebenarnya menarik untuk dibahas, tapi kita tinggalkan dulu. Istri-istri Kanjeng Doso inilah yang dengan tepat merepresentasikan hitam-putih perempuan di layar kaca.
Secara umum istri-istri Kanjeng Doso terbagi menjadi dua: grup Nirmala dan grup si Sirik. Grup Nirmala adalah kelompok istri yang baik-baik, pasrah dan berkerudung. Sementara grup si Sirik adalah kelompok istri yang selalu bergunjing dan tidak menutup aurat.
Perlakuan Kanjeng Doso terhadap istri-istrinya pun sangat hitam-putih. Terhadap grup Nirmala ia begitu membela, sementara grup si Sirik sering menerima hukuman yang aneh-aneh karena kelakuan mereka. Pernah Kanjeng Doso mengikat istri-istri dari grup si Sirik ke kursi, dan memasung salah seorang dari mereka di gudang. Terlepas dari jalan cerita yang ngibulnya nemen itu, perlakuan Kanjeng Doso benar-benar memprihatinkan. Seolah-olah memang perempuan ‘jahat’ harus menerima hukuman fisik supaya bisa kembali ke jalan yang benar.
Sikap Kanjeng Doso ini diikuti anak angkatnya Aryo yang juga beristri banyak (apakah kecenderungan poligami diturunkan lewat pola asuh?) yang menghukum istri-istrinya dengan cara menyuruh mereka menulisi buku tulis dengan kalimat-kalimat penyesalan, sampai penuh. Ketika kemudian terbukti mereka curang dalam menyelesaikan tugas itu, Aryo menyuruh istri-istrinya berdiri dengan satu kaki dan tangan memegang telinga. Persis anak SD.
Saya sungguh cemas bahwa nantinya akan timbul pola pikir masyarakat bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang masuk grup Nirmala sementara perempuan yang menunjukkan gejala-gejala mirip si Sirik serta merta disebut sebagai perempuan yang tidak baik-baik. Belum lagi atribut dan tuntutan yang akan ikut menempel pada perempuan akibat pencitraan biner yang dangkal ini. Bukankah perkara sifat manusia tidaklah sesederhana itu?
Orang-orang pinter dari Perancis dan Jerman sana pernah berkata bahwa apa yang kita sebut dengan sifat baik itu tidak datang mak jegagig dari langit. Sifat baik juga dibentuk sedemikian rupa, disepakati oleh manusia lewat dialog antarbudaya, antarkultur dan antarperadaban, barulah kemudian diterima sebagai sebuah kewajaran yang tidak perlu lagi dipertanyakan.
Salah seorang dari mereka (yang kumisnya paling tebel) malah lebih ekstrim. Ia bilang, sifat baik tidak lebih dari proyeksi manusia untuk menguasai lingkungan dan sesamanya. Atribut yang menempel pada orang-orang yang bersifat baik memberikan kemudahan bagi mereka untuk memeroleh apa yang mereka inginkan. Dengan kata lain, itu toh hanya trik, meskipun mereka sendiri belum tentu menyadarinya.
Dengan logika berpikir seperti ini, sinetron Inayah akan menjadi jauh lebih lucu dan lebih menarik. Jangan-jangan istri-istri dari grup Nirmala yang baik-baik dan berkerudung itu bersikap manis agar tidak kehilangan identitasnya sebagai pendamping suami yang dicintai, sementara perempuan-perempuan dari grup si Sirik ternyata lebih jujur dan tidak munafik menampilkan maksudnya untuk berkuasa.
Tentu saja logika yang serba dibolak-balik ini hanyalah alternatif pandangan. Hal yang lebih penting adalah kesediaan kita sebagai penonton untuk selalu mau mengkritisi apa yang kita saksikan. Istri-istri Kanjeng Doso memang tokoh fiktif, tapi bukankah dalam hidup ini selalu ada yang bisa kita pelajari, bahkan dari sesuatu yang tidak benar-benar nyata?
Seorang perempuan berdandan tebal atau tipis, berkerudung atau tidak, ngomongnya kasar atau halus, tidaklah seratus persen menentukan seperti apa perangainya. Ini harus kita sadari betul. Jika kita terlalu terlena dengan pola pikir “kemasan menunjukkan isi”, karakter bijaksana dan berpikiran terbuka akan makin jauh dari genggaman.

(Dimuat di Suara Merdeka, Edisi 19 Juli 2009)

Minggu, 05 Juli 2009

Godaan Hunian Idaman

Kita-kita yang rada mau berpikir pastilah sadar bahwa televisi –dulu dan kini- adalah agen penyebar segala macam pandangan dan gagasan paling praktis. Mulai dari kampanye presiden sampai gosip artis, sejak iklan kecap a-be-se sampai ajakan memakai kartu kredit ‘agar dunia dalam genggaman anda’.
Tidak seperti media lain yang menuntut segmentasi, di televisi apapun bisa ditayangkan. Semuanya ada. Bagaikan toserba. Julukannya saja kotak ajaib, dan ini pas betul. Buktinya masyarakat kita rela ikut kuis siapa paling tahan lama nonton televisi (sambil berdiri lagi!), yang ujung-ujungnya berhadiah televisi juga. Bayangkan ironinya: lomba konsumsi dengan hadiah yang mendorong agar lebih konsumtif lagi. Ajaib toh?
Perkara konsumtif ini belakangan kok ya terasa agak sensitif. Kita sudah tahu kalau hampir semua yang seliweran di televisi hendak merayu kita untuk membeli. Sekali lagi, membeli. Membujuk kita untuk mengeluarkan sesuatu, bukan mengkreasikan sesuatu. Membuat otak kita pasif, bukan aktif.
Tapi coba lihat promo hunian yang muncul tiap akhir pekan. Memang sih dia mempromosikan papan, sebuah aspek yang vital selain pangan dan sandang. Hanya saja, konsep yang ditawarkan dan caranya menawarkan itu lho. Penuh bujuk rayu yang sungguh sangat tidak edukatif.
Menonton acara ini membuat saya teringat ungkapan khas orang Jawa: ngono yo ngono ning yo aja ngono. Apakah mempromosikan rumah harus dengan konsep yang memperbudak masyarakat Indonesia agar semakin konsumtif? Dan apakah harus dengan gaya dandanan, dan bahasa tubuh para pembawa acaranya yang disetel se-menggoda mungkin?
Fenny Rose (nah, terpaksa harus sebut nama) biasanya membawakan acara ini bareng dengan komedian Ulfa Dwiyanti atau Miing Bagito. Busana Fenny berganti-ganti, tapi selalu wah. Yang pasti tidak terlihat seperti orang yang mau melihat-lihat rumah. Gaun terusan dan rambut yang disasak tinggi seperti semak-semak adalah kombinasi favoritnya.
Dilihat sepintas lalu kita bisa enteng berkomentar bahwa memang begitulah seharusnya pakaian pembawa acara. Tapi kalau mau iseng cari perkara, kita bisa katakan Fenny Rose tidak sembarang berdandan. Dirinya mencitrakan kaum urban. Gaun terusan dan rambut disasak kan sangat mo-de-ren dan berbau Barat, ciri khas kaum social climbers. Soalnya, mereka inilah yang paling potensial dicekoki segala impian mengenai hunian idaman.
Selesai dengan busana, mari beralih ke pilihan kata. “Wah! Luar biasa! Sulit dipercaya! Siapa sih yang enggak mau punya rumah dengan Mall of Indonesia sebagai halamannya?” Seolah-olah masyarakat Indonesia harus membelanjakan uangnya setiap hari. Beli, beli, dan beli.
“Bayangkan kemudahannya! Belanja setiap hari hanya seperti menyeberangi teras lho! Sungguh jenius ide pengembang kita ini!” Saking jeniusnya, ‘pengembang kita ini’ mengganti ide tentang teras rumah yang tadinya untuk tempat leyeh-leyeh di sore hari, menjadi lapangan belanja yang penuh gaya. Dan kita menurut saja.
“Yang ini adalah Ancol sebagai halaman rumah Anda! Sungguh mengagumkan!” Memangnya manusia Indonesia adalah masyarakat yang begitu haus akan hiburan sehingga tiap hari harus pergi berwisata? Apakah memang kita begitu menyedihkannya? Lagipula, tempat wisata yang didatangi setiap hari toh pada akhirnya akan terasa seperti bukan wisata lagi, melainkan kebiasaan semata.
“Memiliki hunian ini memang luar biasa. Jika perlu belanja kebutuhan sehari-hari, tinggal telpon. Ada layanan supermarket yang akan mengantarkan pesanan langsung ke kamar apartemen Anda. Sungguh praktis!” Bagus, didiklah masyarakat Indonesia jadi pemalas-pemalas unggul. Mau beli sayur atau bumbu dapur saja harus angkat telpon. Boro-boro mau angkat pantat dan pergi ke pasar tradisional.
Perhatikanlah bahwa kalimat-kalimat bujuk rayu di atas diucapkan dengan nada penuh kekaguman. Banyak tanda seru di sana. Gesturnya pun pas bener. Mata melotot kaget, senyum girang lebar bukan main, dan lambaian tangan yang berarti it’s too good to be true ketika mengucapkan ‘bisa dicicil dengan bunga nol persen!’ hanyalah beberapa di antaranya.
Hal ini membuat kalimat-kalimat di atas, meskipun berisi dobos belaka, terkesan sungguh meyakinkan. Para penonton di rumah ikut membelalakkan mata. Seperti mendapatkan pencerahan. Dalam hal ini Fenny Rose dan kawan-kawan menempatkan diri mereka sebagai juruselamat bagi masyarakat yang selama ini, alangkah begonya, tidak bisa menentukan sendiri hunian seperti apa yang pas untuk mereka.
Seno Gumira Ajidarma pernah menulis bahwa sesungguhnya kita ini terancam menjadi manusia-manusia kodian, yaitu manusia-manusia yang pola pikirnya (di)seragam(kan). Termasuk masalah mimpi. Sadar atau tak sadar, impian kita tak pernah jauh berbeda: lulus kuliah, kerja di perusahaan besar, punya rumah dan mobil mewah, tapi sekali-sekali masih bisa liburan ke luar negeri.
Hemat saya, ini jugalah yang sedang diusahakan oleh para pengembang properti lewat acara promosi di televisi. Impian kita sedang disamakan. Kita dididik untuk punya cita-cita yang seragam, yaitu memiliki hunian dengan pusat perbelanjaan raksasa sebagai halaman. Mau atau tidak? Kita yang memutuskan.

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 5 Juli 2009)