
Datangnya bulan Ramadhan memberi kita pemandangan tersendiri di televisi. Sinetron-sinetron yang biasanya berlimpah kata-kata makian yang kasar, bahasa tubuh yang nyebelin, dan dialog yang melambangkan kecintaan yang besar terhadap materi, kini berubah wujud. Para tokoh mendadak berkerudung dan berpeci, dan mulai menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, alias mung mampir ngombe.
Cobalah cermati jalan cerita sinetron-sinetron yang memang penuh dengan ragam cobaaan itu: kematian, penyakit berat, rebutan harta, anak kandung yang tertukar dengan anak tiri, dan sebagainya. Jika biasanya dalam menghadapi jalan cerita tersebut para tokoh sinetron berteriak-teriak atau saling menampar, sekarang mereka hanya menarik nafas panjang dan mengucap istighfar. Mereka yang dulunya berseteru, kini berlomba-lomba mengalah. Kelakuan yang biasanya ngotot-ngototan, berubah menjadi lembut bukan kepalang.
Perkara pakaian juga ikut disesuaikan. Tokoh perempuan yang biasanya memakai pakaian seperti jahitan yang kekurangan bahan, kini berpakaian lebih tertutup. Sementara tokoh laki-laki ditampilkan sering memakai kopiah. Dalam beberapa adegan justru kelihatannya jadi lucu karena mereka menggunakan kerudung atau peci bahkan ketika hanya leyeh-leyeh di dalam rumah. Rasanya kita sendiri juga tidak begitu-begitu amat dalam ‘merayakan’ bulan suci. Bukankah semangat tidak harus diwujudkan hanya dengan atribut fisik?
Tidak berlebihan jika dikatakan para praktisi sinetron ini semata-mata memanfaatkan momen yang ada. Mumpung bulan puasa identik dengan kesabaran, maka jalan cerita pun dibelokkan sedemikian rupa sehingga pas bener dengan semangat Ramadhan. Ini saja tidak cukup. Dialog pun harus bernafaskan Islami. Tokoh-tokoh sinetron yang biasanya slenge’an dan hanya mengerti bagaimana cara berdandan kini menjelma da’i dengan mengutip ayat-ayat Al Quran dalam percakapan sehari-hari. Hebat betul. Semuanya atas nama Ramadhan.
Tampaknya sebagai penonton sekaligus umat beragama, kita harus merelakan bulan ini dieksploitasi habis-habisan oleh para praktisi sinetron. Hal ini adalah suatu niscaya, alias mau tidak mau, suka tidak suka, pasti terjadi. Kita terpaksa melihat bulan Ramadhan hanya sebagai salah satu momen dalam kehidupan, yang apa salahnya dimanfaatkan?
Radityo Prabowo, Produser TV Borobudur, memiliki pendapat yang cukup menghibur dalam memandang hal ini. “Jika kita mau memandang sinetron yang mendadak jadi relijius itu sebagai bentuk dakwah, maka sebetulnya itu adalah media dakwah yang secara kuantitatif paling mengena untuk masyarakat Indonesia,” kata praktisi televisi lokal itu. “Dibandingkan dengan acara bincang-bincang yang meskipun secara kualitatif lebih baik, tapi ceruk pasarnya lebih sedikit.”
Masalahnya, bisakah kita memandang sinetron yang mendadak relijius ini sebagai media dakwah? Rasanya kok susah. Untuk bisa dikatakan sebagai media dakwah, sebuah sinema elektronik harus memiliki konsistensi dalam menawarkan wacana-wacana keimanan, jika perlu dengan cara-cara yang kreatif dan berbeda. Tidak mendadak dan musiman seperti yang terjadi sekarang.
Contoh paling baik menurut saya adalah sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Serial produksi PT Demi Gisela Citra Sinema yang ditulis oleh Wahyu HS dan disutradarai oleh Deddy Mizwar ini adalah contoh sinema yang konsisten menawarkan wacana keimanan. Dari segi waktu saja, ia hanya ditayangkan dalam bulan Ramadhan. Bahkan konon Deddy Mizwar pernah menolak tawaran untuk melayarlebarkan PPT.
Share PPT sendiri cukup bagus, mencapai 32% dengan penyebaran penonton merata laki-laki dan perempuan, dari berbagai kelompok usia (10-24 tahun, 30-39 tahun, dan 40-49 tahun, AGB Nielsen). Bagi saya ini berita baik. Betapa tidak, PPT sarat dengan berbagai dialog yang sepintas tampak ringan, tapi begitu direnungkan bisa memberikan makna yang cukup dalam.
Salah satu adegan yang menempel di ingatan adalah ketika kampung Bang Jack (Deddy Mizwar) mengadakan perhelatan lomba karambol dalam rangka ulangtahun tokoh kaya Pak Jalal (Jarwo Kwat). Hansip Udin mempertanyakan apakah banyaknya orang yang ikut lomba karambol disebabkan oleh hadiah yang menggiurkan. “Kalau nggak ada hadiahnya, jangan-jangan nggak ada yang ikut.” ia menyimpulkan.
Apa jawaban Bang Jack? “Yang ikut ya hanya mereka-mereka yang benar-benar cinta karambol. Demikian halnya dengan ibadah. Karena Allah tahu manusia penuh dengan kelemahan dan sewaktu-waktu bisa bosan, maka diberilah iming-iming surga dan pahala sebagai hadiah.” Ini adalah suatu pembicaraan yang tingkatnya filsafati, namun dengan lincah PPT bisa mengemasnya melalui tahap analogi dengan hal-hal remeh dalam kehidupan sehari-hari seperti lomba karambol.
Jelas bahwa menjadikan sinetron sebagai media dakwah tidak bisa dilakukan dengan hanya menyelipkan potongan-potongan ayat kitab suci yang seringkali terasa numpang lewat tanpa konteks. Sebab jika hanya itu yang dilakukan, apa boleh buat, harus dikatakan bahwa sinetron kita sekadar memanfaatkan momen Ramadhan demi pundi-pundi uang.
(dimuat di Suara Merdeka Edisi Minggu, 30 Agustus 2009)





